INJIL MASUK BOLAANG MONGONDOW

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

default INJIL MASUK BOLAANG MONGONDOW

Post by Hiskia K Manggopa on Sun Sep 28, 2008 9:04 am

Web Site GMIBM : http://gmibm.tripod.com

Orang-orang Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Sebenarnya Portugis adalah satu negara kecil di Eropa Barat Daya. Daerah Portugis ( Potugal ) selama 5 abad dijajah oleh orang-orang Arab dan Berber dari Afrika Utara ( tahun 700 - 1200 ). Melalui perang kemerdekaan selama 150 tahun, Portugis dengan bantuan Spanyol dapat mengusir penjajah. Sebagai akibatnya muncul rasa bangga diri pada orang-orang Portugal dan Spanyol untuk menaklukkan dunia lain. Perlombaan untuk menguasai dunia lain dilakukan kedua negara ini. Demikianlah pada tahun 1492 orang Spanyol dibawah Colombus menemukan Amerika, sedangkan orang Portugis berupaya untuk datang ke Asia. Akibat perlombaan ini Sri Paus mengeluarkan suatu ketetapan membagi dunia, yaitu Amerika bagi Spanyol dan Asia bagi orang Portugis. Ketetapan ini dibuat tahun 1494 yaitu dua tahun sesudah Colombus menemukan Amerika. Empat tahun sesudah itu yaitu ditahun 1498 orang Portugis di bawah pimpinan Vasco Da Gama tiba di India. Dari India, Portugis melanjutkan usaha penaklukan. Tahun 1511 mereka berhasil menaklukkan Malaka, dimana kemudiannya Malaka menjadi jembatan bagi kunjungan ke Indonesia. Demikianlah pada tahun 1512 kapal-kapal Portugis mulai berlayar di laut Jawa dan Sampai ke Maluku.
Sejalan dengan ketetapan Sri Paus tahun 1494, juga diterapkan sistem penguasaan wilayah jajahan. Orang Portugis dan Spanyol disamping alasan ekonomi dan Politis menguasai wilayah jajahan juga diwajibkan melaksanakan kewajiban agama yaitu menyebarkan iman kristen di wilayah jajahan. Bahkan juga Raja Portugis dan Spanyol diberi kuasa melakukan pekabaran injil serta diberi hak untuk mengangkat uskup dan mengirim missionaris ke daerah jajahan. Itu berarti segala pembiayaan dalam penyebaran injil harus dibiayai oleh raja. Sistem ini disebut Padroado yang berarti Raja sebagai majikan juga adalah pelindung gereja diwilayahnya.
Atas dasar padroado maka orang-orang Portugis dan Spanyol tidak menganggap aneh kalau jalan untuk missi dilakukan melalui perang, atau kalau jalan pengkristenan dipakai sebagai alat untuk menjamin monopoli perdagangan, juga tidaklah aneh kalau raja mengepalai usaha pekabaran injil.
Di tahun 1540 an terjadi perobahan sikap atas ketetapan Sri Paus. Pater-pater Serikat Yesus ( orang-orang Yesuit atau ordo Yesuit ) memunculkan gerakan pembaharuan dalam pekabaran injil. Mereka mulai tidak tunduk pada perintah raja. Bagi mereka perluasan agama kristen wajib dilaksanakan terlepas dari apakah hal itu menguntungkan bagi perluasan wilayah jajahan. Missionaris gaya baru itu merasa terdorong untuk bekerja juga diluar lingkungan pengaruh negaranya. Hal tersebut dibuktikan oleh Pater Fransiscus Xaverius yang datang ke Maluku. Ia bekerja giat untuk mengkristenkan orang Maluku. Hanya dalam beberapa waktu berada di Maluku ia telah membabtis puluhan ribu penduduk.
Ditahun 1547 Franciscus Xaverius merencanakan perjalanan ke Jepang dan Tiongkok, padahal dua negeri ini bukan merupakan daerah taklukan dari Portugis. Dalam perjalanan ke Jepang, Fransciscus Xaverius singgah di Kema dan Kaidipang ( Boroko ). Didua tempat ini ia melakukan pembabtisan terhadap banyak penduduk negeri. Di Kaidipang sebanyak 2000 orang dibabtisnya. Inilah awal penanaman benih Injil di Bolaang Mongondow. Tetapi orang-orang yang telah dibabtis ini dibiarkan begitu saja tanpa pemeliharaan.
Benih injil kembali disebarkan di Bolaang Mongondow manakala Raja Yakobus Manoppo telah dibabtis di Manado dan naik tahta menjadi Raja Bolaang pada tahun 1694. Sejak saat itu kekristenan tetap hidup di Bolaang Mongondow walaupun terbatas pada lingkungan kerajaan. Hal ini dibuktikan oleh kunjungan yang dilakukan dari Manado oleh Pendeta Arnoldus Brans pada tahun 1705 dan didapati raja Yakobus Manoppo bersama 152 orang lainnya adalah beragama kristen. Atas dasar itu Pendeta Brans membuka sebuah sekolah di Bolaang. Kekritenan di Bolaang berlanjut terus. Pada tahun 1830 seorang pendeta dari Ambon mengunjungi Sulawesi Utara. Ia adalah Yoseph Kam. Pendeta Yoseph Kam adalah satu-satunya pendeta yang melayani di Indonesia Timur ( Maluku dan Sulawesi Utara ) sejak tahun 1816 - 1831. Yoseph Kam sebenarnya adalah seorang utusan Injil dari Badan Zending negeri Belanda yaitu Nederlands Zendeling Genootschap ( NZG ). Ketika di Batavia tenaganya diambil oleh pemerintah jajahan dan dipekerjakan melayani di Ambon. Tahun 1830 Yoseph Kam mengunjungi Sulawesi Utara. Dalam kunjungan ini Ia datang juga kebolaang. Karena raja Bolaang waktu itu memeluk agama Kristen maka di Bolaang Pendeta Yoseph Kam melaksanakan pembabtisan terhadap 100 orang anak sambil berjanji untuk mengirimkan seorang guru dari Ambon untuk melayani disana. Janji itu diwujudkan pada tahun 1832 dengan datangnya 4 orang tenaga guru ke Sulawesi Utara dimana seorang yang bernama Yakobus Bastian ditempatkan di Bolaang dan membuka sekolah disana. Namun sayang bahwa sekolah tersebut tidak dapat berlangsung lama karena guru Yakobus Bastian meninggal dunia dan sekolahpun ditutup.
Dari catatan sejarah umum diketahui bahwa Verenigde Oostidische Compagnie ( VOC ) sebagai satu perusahan dagang yang telah menguasai Indonesia sejak permulaan abad ke 17 dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799. Dengan bangkrutnya perusahan dagang ini maka wilayah Indonesia menjadi jajahan langsung dari pemerintah Belanda. Segala urusan pemerintahan ditangani oleh Pemerintah Belanda, termasuk di dalamnya urusan keagamaan. Agama diambil alih seluruh urusannya oleh pemerintah. Didirikanlah Gereja Negara di Indonesia ( Indische Kerk ) yang khusus melayani orang Kristen peninggalan VOC. Gereja itu yaitu di ambon, di Minahasa dan Kupang. Kehidupan orang-orang Kristen di tiga wilayah ini dilayani oleh pendeta-pendeta yang diangkat oleh pemerintah Belanda. Itu berarti segala pembiayaan gereja menjadi tanggung jawab pemerintah. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan gereja. Yang dapat dilihat dari keadaan ini adalah tidak adanya pendeta yang melayani di Indonesia Timur selama hampir dua puluh tahun. Selain itu sejak awal abad ke 19 segala usaha pekabaran injil ke Indonesia harus mendapat isin resmi dari pemerintah.
Pada pihak lain di Eropa muncul kesadaran baru tentang usaha penginjilan ke dunia seberang. Sebagai pengaruh dari Pietisme dan Revival banyak orang terpanggil untuk menyebarkan injil keseluruh dunia. Untuk menampung kehendak melaksanakan tugas pekabaran injil maka didirikanlah demikian banyak lembaga pekabar injil. Salah satunya adalah NZG yang berdiri tahun 1797 di belanda. Lembaga Pekabaran Injil ini berdiri sendiri. Segala pembiayaan ditanggung bersama oleh para anggotanya baik pembiayaan untuk perjalanan, biaya hidup ditempat tugas maupun pembiayaan lainnya. Malahan ada satu lembaga pekabaran injil yang diberi nama Pekabaran Injil Tukang. Penginjil itu dilatih dalam keahlian untuk membuat sepatu, memperbaiki jam tangan, membangun rumah dan lain-lain kemudian dikirim ke daerah seberang. Antara lain lembaga ini mengutus penginjilnya ke Sangir dan Irian.
Ke Minahasa NZG mengutus dua pendetanya yaitu Reidel dan Swarch untuk mengkabarkan Injil di pedalaman Minahasa. Khususnya di Manado dan Kema telah ada orang Kristen asuhan dari Indische Kerk ( Gereja Protestan Indonesia ). Jadi pada saat itu di Minahasa bekerja pendeta GPI dan Pendeta Zendeling. Akibatnya pendeta GPI dipandang sebagai pendeta kelas I karena mereka pegawai pemerintah sedangkan pendeta lembaga PI yang gajinya dibayar oleh lembaga dan pasti jauh lebih rendah dari yang dibayarkan pemerintah. Walaupun demikian semangat kerja dan pengabdian para pendeta Zendeling tidak luntur oleh status mereka. Para pendeta Zendeling membuka beberapa pos penginjil di Minahasa. Salah satunya adalah pos Kumelembuai yang dipimpin oleh pendeta de Vries. Pendeta de Vries dibantu oleh tenaga pribumi yang disebut Penolong ( banyak orang-orang tua menyebutnya dengan "penlong" ) sebanyak 12 orang.
Atas inisiatif sendiri pendeta de Vries telah mengutus dua orang pembantunya untuk melayani orang-orang Minahasa di Poopo dan di Mariri. Kedua "penolong" itu yaitu Th. Pangkei yang bekerja di Poopo dan A. Tumewu yang bekerja di Mariri Lama. Sesudah beberapa lama bekerja di kedua tempat tersebut maka Penolong Th. Pangkei membabtis sebanyak 148 orang baik dewasa maupun anak-anak di Poopo pada 25 Desember 1904 dan Penolong A. Tumewu membabtis sekitar 80 orang di Mariri Lama pada 7 Juli 1905.

LEBIH LENGKAP LIHAT http://gmibm.tripod.com

Hiskia K Manggopa

Male
Jumlah posting : 1
Age : 55
Lokasi : Manado
Pekerjaan : Dosen Fatek Unima Manado
Gereja : GMIBM - Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (The Christian Evangelica Church in Bolaang Mongon
Registration date : 28.09.08

Lihat profil user http://gmibm.tripod.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik