Kristus (Kristologi) dan Para Buruh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

default Kristus (Kristologi) dan Para Buruh

Post by Admin on Tue Nov 06, 2007 10:05 pm

Kristus (Kristologi) dan Para Buruh



Karya: Iswanto, kategori: Pilihan Dosen
Ketika kepada kita dipertanyakan apakah kita masih membutuhkan
Kristologi? Tentu jawabannya secara tegas dan pasti adalah ya!! Kita
masih membutuhkan Kristologi, kenapa kita membutuhkan Kristologi adalah
karena dalam Kristuslah seluruh kesaksian iman Kristen mendapat
maknanya. Kristuslah yang menjadikan kekristenan unik. Keunikan
kekristenan bukanlah ajaran tentang kasih sebagaimana yang mungkin
banyak dipikirkan oleh orang Kristen. Dalam kenyataannya adalah sautu
arogansi jika kita membuat pernyataan seperti itu karena Islam, Yahudi,
Hindu dan juga Budhapun mengajarkan tentang kasih dan mempraktekkannya
dalam kehidupan. Christian witness is unique because it consists of a
person. A very concrete, historical, definite, unmistakable, and
irreplaceable person with the name Jesus of Nazareth. Jadi Yesuslah
yang menjadi ciri khas dari Kristen. Ciri khas Kristen adalah pengakuan
bahwa Yesus adalah Kristus. Kristus artinya yang diurapi/dipilih Allah
untuk menjadi penyelamat. Hans Kung, seorang teolog Roma Katolik yang
terkemuka, mengatakan dalam bukunya yang berjudul On Being A Christian
bahwa predikat/ciri Kristen adalah :

“The special figure the most fundamental characteristic of Christianity
is that it considers that Jesus is automatically decisive, definitive,
archetypal, for man relation with God, for man relation with fellowman,
and with society”.

Itulah ciri khas Kristen an mengakui seperti itu sebagai pernyataan
adlaah menunjuk kepada suatu perbuatan yang konkrit dan bukan suatu
perbuatan yang verbal.
Ketika Kristus ataupun Kristologi masih dibutuhkan dan menentukan
bagi kita bagaimana Kristologi tersebut menanggapi konteks Indonesia
sekarnag berkaitan dengan kondisi sosial. Pada tanggal 1 Mei kemarin
diperingati sebagai hari Buruh Sedunia dan sebagai peringatan akan hari
tersebut ribuan bahkan ratusan ribu buruh turun ke jalan. Selain dalam
rangka memperingati hari buruh sedunia para buruh juga mempunyai
tuntutan yang lain dengan aksi mereka. Mereka menuntut agar upaya
pemerintah untuk merevisi Undang-undang Ketenagakerjaan agar
dihentikan. Para buruh tidak mau ada perubahan atau revisi apapun
sehubungan dengan Undang-undang ketenagakerjaan tersebut. Dalam
pandangan para buruh upaya untuk merevisi ataupun “menyempurnakan”
undang-undang tersebut pada akhirnya akan merugikan para buruh dan
semakin memojokkan keadaan mereka. Untuk itu para buruh mogok dan
berdemo agar jangan sampai terjadi perubahan atas undang-undang yang
mengatur tentang ketenagakerjaan yang sudah ada. Undang-undang tersebut
bagi buruh sudah merupakan keputusan final yang tidak bisa lagi
diganggu gugat oleh siapapun bahkan oleh pemerintah sendiri. Sedemikian
kerasnya tuntutan buruh sehingga kita sempat melihat tindakan-tindakan
“anarkis” dalam aksi mereka.
Ketika Kristus menentukan bagi setiap aktivitas kekristenan maka
akan timbul pertanyaan bagaimanakah gambaran Kristus yang akan
menjawab/muncul dalam konteks seperti itu. Model Kristologi seperti apa
bagi kaum buruh, apakah Kristus tampil sebagai tokoh spiritual yang
hanya akan memberikan wejangan-wejangan rohaninya tanpa peduli pada
penderitaan kaum buruh, atau Kristus tampil sebagai Borjuis/pemilik
modal yang murah hati yang memberikan gaji tinggi kepada para buruhnya
atau Kristus sendiri tampil sebagai seorang buruh yang justru malah
menggerakkan aksi-aksi buruh untuk memperjuangkan hak-hak mereka, atau
Kristus tampil sebagai Tuhan yang diatas surga sana yang hanya
mendengarkan doa-doa dari para buruh, ataukah Kristus tampil sebagai
orang Departemen Tenaga Kerja (Pemerintah) yang turut menyuarakan
kepentingan para buruh. Dalam menghadapi suatu konteks sosial tertentu
bisa muncul bermacam-macam Kristologi yang berbeda-beda, bahkan adapula
yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Lalu Kristologi apa atau
yang bagaimana yang setidaknya tepat bagi para buruh? Siapakah Kristus
bagi para buruh? Bagi kepentingan dari kemanusiaan Kristus dan juga
kepentingan kemanusiaan dan ekspoitasi kaum buruh dalam suatu sistem
kapitalis Bonhoeffer memberikan pernyataan teologisnya :

The proletarian does not say, “Jesus is God”. But when he says, “Jesus
is a good man”, he is saying more than the bourgeois says when he
repeats, “Jesus is God”. God is for him something belonging to the
church. But, Jesus can be present on the factory floor as the
socialist; at a political meeting, as an idealist; in worker’s world,
as a good man. Ge fights in their ranks against the enemy, capitalism.
Bagi para buruh maka Kristus bisa hadir bukan pertama-tama mengacu
pada Dia sebagai Allah, melainkan sebagai ‘saudara dan tuan’. Dalam
berita injil pun Yesus juga ditampilkan sebagai seorang humanis yang
berbela rasa dengan mereka yang tertindas. Mengkritik ‘politik
ketahiran’ yang berangkat dari konsep imitatio Dei (Imamat 19:2)
terciptalah suatu sistem yang justru membikin sekat-sekat antara
manusia, antar akudus dan najis, kaya-miskin, laki-laki perempuan,
sehat cacat. Kedatangan Yesus untuk mempermaklumkan Allah yang
berbelarasa (Lukas 6:36) Allah yang meraja adalah Allah yang adil, yang
melindungi mereka yang tak berdaya agar persaudaraan semua orang dapat
tercipta. Cinta menuntut keadilan serta merupakan terang dan daya untuk
mengenali dan memenuhi tuntutan-tuntutan keadilan dalam situasi-situasi
yang berubah.
Revolusi industri dan gaya produksi kapitalis menimbulkan bentuk
penderitaan yang baru: penderitaan yang jelas-jelas disebabkan oleh
manusia, bukan oleh bencana alam atau kemiskinan tradisional.
Kapitalismen memandang tenaga kerja buruh sebagai faktor produks saja
yang diperlukan menurut hukum pasar bebas, tepatnya menurut hukum
permintaan dan penawaran. Maka buruh jatuh kepada belenggu kemiskinan
dan ketergatungan yang menghina martabat mereka sebagai manusia dan
membawa penderitaan yang amat besar. Karena itu Kristologi dan para
buruh setidaknya juga harus mempunyai implikasi ekklesiologis yaitu
bagaimana gereja juga harus terlibat atau sadar akan masalah-masalah
sosial dari suatu sistem yang membelenggu, sebagaimana Kristus yang
berbela rasa.

_________________
"Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa"

(Mazmur 60:14a)

Admin
Admin
Admin

Male
Jumlah posting : 22
Age : 39
Gereja : Gereja Sidang Jemaat Kediri
Registration date : 08.10.07

Character sheet
admin:

Lihat profil user http://kristen.variousforums.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik